HOME

Tampilkan postingan dengan label Ilustrasi Kasih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilustrasi Kasih. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 September 2011

Kisah Pohon Apel



Suatu ketika, hiduplah pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di bawah teduh dan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.

"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang; tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. "

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel.

"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"

"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon apel.

"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"

"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah ." Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian."Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."

"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu.

"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel.

"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.

"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."

"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang." Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua.
Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.

Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

Selasa, 07 Juni 2011

Bunga Untuk Mama

Pada suatu pagi, seorang pengusaha muda dengan tergesa-gesa berangkat ke kantor. Karena tidak sempat sarapan, ia singgah ke sebuah toko roti untuk membeli roti.
Saat memilih roti, ia melihat seorang anak kecil yang usianya kurang lebih 10 tahun. Anak tersebut ingin membeli bunga, tetapi uangnya tidak cukup untuk membeli bunga yang dipilihnya.
Melihat ekspresi sedih dari anak kecil itu, ia pun bertanya, "Untuk siapa bunga itu nak?" Si anak kecil itu pun menjawab, "Saya mau membelikan bunga itu untuk mama, karena hari ini mama berulang tahun."

Si pengusaha tersentak, "Oh ya, aku hampir lupa; hari ini istriku juga berulang tahun. Kalau sampai aku lupa membelikan hadiah, ia pasti marah."

Si pengusaha pun segera membeli seikat bunga dan meminta agar diantar ke rumahnya. Ia juga memberi uang kepada si anak kecil, agar si anak kecil itu dapat membeli bunga untuk ulang tahun mamanya. Si anak sangat senang dan ia sangat berterima kasih pada pengusaha tersebut.

Si pengusaha segera bergegas melanjutkan perjalanannya ke kantor. Saat mengendarai mobil, ia melewati anak kecil tadi dan terheran karena anak itu menuju ke pemakaman umum yang sering ia lewati saat ia menuju kantornya. Ia pun menghentikan mobilnya dan mengikuti anak kecil tersebut.

Ternyata anak itu menuju ke satu makam yang masih baru. Si pengusaha bertanya, "Nak, ini makam siapa?" Si anak menjawab, "Ini makam mama saya, Om. Hari ini mama berulang tahun, tetapi sayang, mama meninggal dunia dua hari yang lalu. Saya datang ke makam ini untuk membawakan mama bunga serta mengucapkan selamat ulang tahun." Dengan meneteskan air mata si anak melanjutkan, "Saya tinggal bersama paman. Papa telah pergi bersama wanita lain setahun yang lalu, pergi meninggalkan mama dan saya. Mama tidak punya siapa pun selain saya. Tidak ada yang mempedulikan mama dan tidak ada yang ingat hari ulang tahun mama."

Si pengusaha tersentak, ia teringat akan istrinya. Dengan segera ia kembali ke toko bunga dan mengantar bunganya sendiri ke rumah.

Setibanya di rumah, ia berlari mendapatkan istrinya. Ia mencium dan memeluk istrinya, serta berkata, "Sayang, selamat ulang tahun." Sambil meneteskan air mata haru ia berkata lagi, "TUHAN terima kasih, karena Engkau masih memberi kami waktu dalam suatu keluarga utuh."

Banyak di antara kita yang terlalu sibuk dengan aktivitas rutin yang membuat kita melupakan peristiwa penting yang harus dinikmati bersama dengan orang-orang yang kita kasihi: orang tua, suami, istri, anak dan saudara-saudara kita.

Hari ini kita masih diberi kesempatan untuk hidup, dan semua itu hanyalah merupakan KASIH KARUNIA TUHAN. Sebab itu jangan tunggu sampai besok dan jangan menunda untuk menunjukkan kasih kita kepada mereka, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada esok hari.

Malaikat di Dalam Mikrolet

Jika ada kesempatan untuk berbuat baik lakukanlah segera, itu mungkin kesempatan terakhir anda.

Di suatu siang hari bolong, jam satu siang, matahari bersinar terik membakar gosong kulit setiap pengelana yang nekad berada di jalanan. Panas yang membakar datangnya tidak hanya dari atas, namun pantulannya di jalan yang beraspal dan tanah kering tandus juga menambah parah teriknya. Keadaan seperti ini seharusnya cukupmenyadarkan setiap orang akan dosa-dosanya dan tidak menuju ke neraka. Angkutan umum tidak terlalu ramai, barangkali sebagian besar sopir beristirahat atau menunggu di poll karena jam begitu tidaklah banyak penumpang lalu lalang. Saya naik angkutan umum yang biasa disebut mikrolet itu dan menjadi penumpang pertama dan satu-satunya. Seperti biasa saya mengambil tempat di sudut agar tidak di geser-geser penumpang lain mengingat perjalanan saya cukup panjang. Dalam posisi seperti ini biasanya saya tidak ingin diganggu karena adalah waktu dimana saya membiarkan pikiran ini mengembara, entah menghayal, bermimpi atau berimajinasi.

Selang beberapa waktu naiklah seorang yang sangat tua. Barangkali usianya belumlah mencapai tujuh puluh tahun namun keadaannya sangatlah memiluhkan. Badannya kurus dan renta, wajahnya dipenuhi benjolan-benjolan sebesar kacang polong, matanya merah dan bersinar lemah dan badannya mengeluarkan bau yang tidak sedap entah disebabkan oleh penyakitnya atau oleh pakaiannya yang lusuh. Ia mengambil tempat duduk di depan saya yang walau berusaha tidak perduli tapi sesekali mengamatinya.

Perjalanan belumlah panjang ketika sopir angkot itu bertanya kepada orang tua tadi, "Pak mau turun di mana?"

Dan dengan suara berat dipaksakan ia menjawab, "Rumah sakit!"

"Aduh pak, kenapa tidak bilang dari tadi, itu rumah sakitnya sudah lewat. Bapak turun di sini saja dan ambil angkot lain, " kata sopir itu tanpa belas kasihan sedikit pun. Orang tua itu terlalu lemah sehingga membutuhkan waktu yang tidak cepat untuk keluar dari angkot tersebut. Saya satu-satunya penumpang lain disitu tapi badan saya kaku menempel di jok mobil.

Hati saya berteriak keras, "Ayo, tolong orang tua itu."

Namun badan saya tetap tidak bergerak. Sekali lagi suara hati saya berteriak bahkan lebih keras lagi, "Pegang tangannya, goblok!"

Tidak juga saya lakukan.

Dan ketika kedua kakinya menginjak tanah sang sopir langsung menancap gas dan pergi meninggalkan orang tua itu yang sedang berjuang menjaga keseimbangan dan mengibas debu yang dihasilkan roda–roda angkot tersebut. Saya memandangnya dari kaca mobil, dengan penuh belas kasihan dan rasa bersalah. Entah apa yang menahan tubuh ini dan membuatnya tidak bekerja sama dengan akal sehat dan suara hati. Saya seharusnya dapat menolong orang tersebut, menegur sopir yang tidak manusiawi, membantunya turun, mengantarnya ke RS, menghubungi keluarganya, atau apa sajalah. Namun semua tidak saya lakukan. Kenyamanan telah mengalahkan keinginan untuk berbuat baik. Perasaan tidak ingin direpotkan telah mendiamkan teriakan suara hati nurani. Dan sekarang saya punya masalah, karena wajah orang tua itu terus membayang mengikuti kemana saya pergi : ke sekolah, waktu makan atau menjelang tidur.

"Apa yang terjadi jika seandainya orang itu adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menguji saya?" tanya saya dalam hati.

"Habislah reputasi saya sebagai anak Tuhan jika orang itu memang adalah malaikatnya, " terus menerus saya berkata pada diri sendiri sekan-akan ingin menghukumnya dengan perasaan bersalah.

Tiga hari kemudian, ayah saya berkata bahwa seorang tak dikenal telah meninggal di rumah sakit tempat ia bekerja yang adalah rumah sakit tujuan orang tua tersebut ketika saya bertemu dengannya. Dan ia tidak memiliki keluarga atau siapapun. Saya tidak punya kesempatan untuk melihat tampang mayat tersebut, namun dalam bayangan saya orang tua itulah yang terbaring di sana. Jika benar, saya telah kehilangan kesempatan untuk berbuat baik yang terakhir kali buatnya.

Pengalaman ini mengubah saya untuk tidak menunda untuk mengulurkan tangan bagi yang membutuhkan. Pertama mereka mungkin adalah malaikat yang menjelma, kedua itu mungkin kesempatan terakhir bagi kedua pihak. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok.

Banyak orang Kristen yang merasa terlalu nyaman berada di dalam gedung gereja yang ber-AC dan berkarpet tebal. Para pendeta juga lebih senang melayani di tempat yang menjanjikan uang daripada menjanjikan jiwa. Sementara itu di sekitar kita masih banyak malaikat-malaikat yang berkeliaran menyerupai pengemis, gelandangan, pengamen dan anak-anak kecil di lampu merah.

Terlalu banyak orang yang membutuhkan berada di sekitar kita yang tentu tidak masuk akal jika kita harus menolong semuanya. Namun, paling tidak ulurkan tangan kepada orang yang Tuhan kirim kepada Anda.