Belakangan rasanya mudah sekali menyalahkan tangan semesta atas semua
yang terjadi. Pekerjaan yang makin jahanam dari hari ke hari, urusan
hati yang belum juga selesai sampai hari ini, juga soal impian
membahagiakan orangtua yang ternyata membutuhkan peluh dan presisi
tingkat tinggi.
Saat otak sedang penuh-penuhnya, mudah saja untuk bertanya:
Tuhan di mana? Apakah Dia tidak tahu kita kalang kabut di sini dan memilih menutup mata?
Premis sederhana ini memang terdengar klasik sekali. Tapi jika mau percaya dan mengamini, hidup akan jauh lebih ringan dijalani.
Tuhan selalu ada. Dia bersama kita. Kadang Dia cuma mau kita bersabar saja.
Tidak langsung diberi saja kita masih malas-malasan mengabdi. Sebenarnya Tuhan memberi waktu tunggu agar kita meresapi

Kalau
mau, bisa saja Ia langsung mewujudkan semua yang kita minta. Toh tidak
ada yang sulit bagiNya. Proses skripsi yang panjang dan berliku bisa
diÂ
skip dan dimudahkan saat itu. Perjalanan mencari jodoh
yang membuat kita lelah dan tergopoh bisa ia jadikan manis seperti saat
kita menjajal renyahnya salak pondoh.
Tapi mari kita berkaca saja.
Sebagai Hamba, bukankah ada sifat brengsek yang kita punya? Tidak
langsung dikabulkan permohonannya saja kadang kita malas mendatangiNya
saban hari. Menjumpainya 5 kali dalam sehari, bahkan memujanya di akhir
minggu kadang berat dijalani. Yeah, manusia memang dibekali dengan rasa
mampu dan kurang tahu diri.
Jika mau melongok sedikit dalam lagi,
waktu tunggu antara doa dan pengabulan sebenarnya jadi momen terbaik
untuk meresapi. Di masa kita khusyuk tunduk, kita mengerti bahwa Ia
selalu balas memeluk. Saat malam dihabiskan dengan doa-doa panjang, kita
sadar bahwa ke manapun pergi; senakal apapun kita Dia hanya mau kita
pulang.
Saat kita datang melangkah, Ia selalu
menghampiri dengan berlari. Tak sedetik pun Ia biarkan kita seperti anak
ayam yang kehilangan navigasi
Jika
Ibu saja selalu punya naluri, bukankah tak mungkin Ibu dari semesta
memandang kita yang kebingungan tanpa hati? Walau kadang tak melulu
mengabulkan doa yang sudah dipanjatkan tanpa henti, tapi picing matanya
tak pernah pergi. Ia seperti sahabat baik yang tumbuh bersama dan selalu
di sisi.
KehadiranNya memang tak selalu terasa. Atau memang kita
saja yang kurang peka sebagai manusia. Namun jika mau bersahabat dengan
damai dan senyap sedikit saja — kita akan tahu ia ada.
Ia kerap
menjelma dalam nasihat kedua orangtuamu. KeinginanNya kadang dititipkan
pada cecaran dosen pembimbing skripsi dalam lembar revisimu. PetunjukNya
jadi
backsound tak terdegar di belakang obrolan ringan bersama kawan-kawanmu. Menunggu hatimu cukup peka menjemputnya di situ.
Ia tak selalu kelihatan di sisi. Namun ia tak pernah membiarkan kita berteriak ‘
Mayday’Â karena kehilangan navigasi.
Ia mendengar. HatiNya bergetar. Namun Ia hanya ingin kita bersabar

Tak terbayang rasanya jadi Dia. Tiap waktu mendengar permohonan, kemudian mengkotak-kotakkannya dalam:
- Diwujudkan
- Ditangguhkan
- Diganti yang lebih sepadan
HatiNya
tentu tak nyaman menolak keinginan. Bukankah cintaNya tak perlu lagi
dipertanyakan? Apakah enak menolak permintaan sederhana dari mereka yang
kebaikannya selalu diutamakan?
Setiap permohonan tersampaikan, percayalah jika hatiNya bergetar. TelingaNya mendekat — tak ada ucap yang tidak tersambar.
Jika bijak tentulah ia sudah memencet tombolÂ
approve untuk
semua permintaan. Namun dia lebih mengerti, bahwa kita-kita ini butuh
jeda agar menghargai hal yang diwujudkan. Ia ingin kita bermesra,
sering-sering mengunjungiNya meski dengan pretensi di baliknya. Baginya
tak apa tarik ulur sedikit, pakai umpan dan pancing agar terasa seru
sedikit. Yang jelas kesabaran ini akan berbuah manis, tanpa sakit.