HOME

Tampilkan postingan dengan label Ilustrasi Rancangan Yang Indah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilustrasi Rancangan Yang Indah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Januari 2016

Tuhan Tahu Yang Terbaik Buat Kita

Suatu hari ada seorang pelukis terkenal sedang menyelesaikan lukisannya dan lukisan ini adalah lukisan yang sangat bagus. dan lukisan ini dipakai pada saat pernikahan Putri Diana.

Sang pelukis ketika menyelesaikan lukisannya sangat senang dan memandangi lukisan yang berukuran 2×8 m dan sambil memandanginya pelukis tersebut berjalan mundur. dan ketika berjalan mundur pelukis tersebut tidak melihat ke belakang. dia terus berjalan mundur dan dibelakang adalah ujung dari gedung tersebut yang tinggi sekali dan tinggal satu langkah lagi dia mengakhiri hidupnya.

Salah seorang melihat pelukis tersebut dan hendak berteriak untuk memperingatkan pelukis tersebut tapi tidak jadi karena dia berpikir sekali dia berteriak pelukis tersebut malah bisa jatuh. Kemudian orang yang melihat pelukis tersebut mengambil kuas dan cat yang ada didepan lukisan tersebut lalu mencoret-coret lukisan tersebut sampai rusak.

Pelukis tersebut sangatlah marah dan maju hendak memukul orang tersebut. tetapi beberapa orang yang ada disitu menghadang dan memperlihatkan posisi pelukis tadi yang nyaris jatuh.

Kadang-kadang kita telah melukiskan masa depan kita dengan sangat bagus dan memimpikan suatu hari yang indah bersama dengan pasangan yang kita idamkan. tetapi lukisan itu kelihatannya dirusak oleh Tuhan, karena Tuhan melihat bahaya yang ada pada kita kalau kita melangkah. Kadang-kadang kita marah dan jengkel terhadap Tuhan atau juga terhadap pemimpin kita. tapi perlu kita ketahui Tuhan selalu menyediakan yang terbaik

Sabtu, 07 November 2015

Bukan Tuhan Tidak Mau Mendengar. Kadang Dia Hanya Ingin Kita Bersabar

Belakangan rasanya mudah sekali menyalahkan tangan semesta atas semua yang terjadi. Pekerjaan yang makin jahanam dari hari ke hari, urusan hati yang belum juga selesai sampai hari ini, juga soal impian membahagiakan orangtua yang ternyata membutuhkan peluh dan presisi tingkat tinggi.
Saat otak sedang penuh-penuhnya, mudah saja untuk bertanya:
Tuhan di mana? Apakah Dia tidak tahu kita kalang kabut di sini dan memilih menutup mata?
Premis sederhana ini memang terdengar klasik sekali. Tapi jika mau percaya dan mengamini, hidup akan jauh lebih ringan dijalani.
Tuhan selalu ada. Dia bersama kita. Kadang Dia cuma mau kita bersabar saja.


Tidak langsung diberi saja kita masih malas-malasan mengabdi. Sebenarnya Tuhan memberi waktu tunggu agar kita meresapi

Kalau mau, bisa saja Ia langsung mewujudkan semua yang kita minta. Toh tidak ada yang sulit bagiNya. Proses skripsi yang panjang dan berliku bisa di skip dan dimudahkan saat itu. Perjalanan mencari jodoh yang membuat kita lelah dan tergopoh bisa ia jadikan manis seperti saat kita menjajal renyahnya salak pondoh.
Tapi mari kita berkaca saja. Sebagai Hamba, bukankah ada sifat brengsek yang kita punya? Tidak langsung dikabulkan permohonannya saja kadang kita malas mendatangiNya saban hari. Menjumpainya 5 kali dalam sehari, bahkan memujanya di akhir minggu kadang berat dijalani. Yeah, manusia memang dibekali dengan rasa mampu dan kurang tahu diri.
Jika mau melongok sedikit dalam lagi, waktu tunggu antara doa dan pengabulan sebenarnya jadi momen terbaik untuk meresapi. Di masa kita khusyuk tunduk, kita mengerti bahwa Ia selalu balas memeluk. Saat malam dihabiskan dengan doa-doa panjang, kita sadar bahwa ke manapun pergi; senakal apapun kita Dia hanya mau kita pulang.


Saat kita datang melangkah, Ia selalu menghampiri dengan berlari. Tak sedetik pun Ia biarkan kita seperti anak ayam yang kehilangan navigasi


Jika Ibu saja selalu punya naluri, bukankah tak mungkin Ibu dari semesta memandang kita yang kebingungan tanpa hati? Walau kadang tak melulu mengabulkan doa yang sudah dipanjatkan tanpa henti, tapi picing matanya tak pernah pergi. Ia seperti sahabat baik yang tumbuh bersama dan selalu di sisi.
KehadiranNya memang tak selalu terasa. Atau memang kita saja yang kurang peka sebagai manusia. Namun jika mau bersahabat dengan damai dan senyap sedikit saja — kita akan tahu ia ada.
Ia kerap menjelma dalam nasihat kedua orangtuamu. KeinginanNya kadang dititipkan pada cecaran dosen pembimbing skripsi dalam lembar revisimu. PetunjukNya jadi backsound tak terdegar di belakang obrolan ringan bersama kawan-kawanmu. Menunggu hatimu cukup peka menjemputnya di situ.
Ia tak selalu kelihatan di sisi. Namun ia tak pernah membiarkan kita berteriak ‘Mayday’ karena kehilangan navigasi.


Ia mendengar. HatiNya bergetar. Namun Ia hanya ingin kita bersabar

Tak terbayang rasanya jadi Dia. Tiap waktu mendengar permohonan, kemudian mengkotak-kotakkannya dalam:
  • Diwujudkan
  • Ditangguhkan
  • Diganti yang lebih sepadan
HatiNya tentu tak nyaman menolak keinginan. Bukankah cintaNya tak perlu lagi dipertanyakan? Apakah enak menolak permintaan sederhana dari mereka yang kebaikannya selalu diutamakan?
Setiap permohonan tersampaikan, percayalah jika hatiNya bergetar. TelingaNya mendekat — tak ada ucap yang tidak tersambar.
Jika bijak tentulah ia sudah memencet tombol approve untuk semua permintaan. Namun dia lebih mengerti, bahwa kita-kita ini butuh jeda agar menghargai hal yang diwujudkan. Ia ingin kita bermesra, sering-sering mengunjungiNya meski dengan pretensi di baliknya. Baginya tak apa tarik ulur sedikit, pakai umpan dan pancing agar terasa seru sedikit. Yang jelas kesabaran ini akan berbuah manis, tanpa sakit.

Senin, 15 Juli 2013

BEJANA PILIHAN

Seorang Tuan sedang mencari sebuah bejana. Sambil berjalan sang Tuan melihat dan menilai bejana-bejana tersebut. Bejana Emas berkata: "Pilihlah aku," teriak bejana emas,"Aku mengkilap dan bercahaya. Aku sangat berharga dan aku melakukan segala sesuatu dengan benar. Keindahanku akan mengalahkan yang lain. Dan untuk orang seperti Tuanku, emas adalah yang terbaik!" Tuan itu hanya lewat saja tanpa mengeluarkan sepatah kata. Kemudian ia melihat suatu bejana perak, ramping dan tinggi. Bejana Perak, Ramping dan Tinggi berkata: "Aku akan melayani engkau Tuanku, aku akan menuangkan anggurmu dan aku akan berada di mejamu di setiap acara jamuan makan. Garisku sangat indah, ukiranku sangat nyata. Dan perakku akan selalu memujimu." Tuan itu hanya lewat saja dan menemukan sebuah bejana kaca.’ Bejana ini lebar mulutnya dan dipoles seperti kaca. "Bejana Kaca berkata; "Sini! Sini!" teriak bejana itu, "aku tahu aku akan terpilih. Taruhlah aku dimejamu, maka semua orang akan memandangku." Namun tuan itu hanya melewatinya dan melihat bejana kristal. Bejana Kristal berkata: "Lihatlah aku!", panggil bejana kristal yang sangat jernih. Aku sangat transparan, menunjukkan betapa baiknya aku. Meskipun aku mudah pecah, aku akan melayani engkau dengan kebanggaanku. Dan aku yakin, aku akan bahagia dan senang tinggal dalam rumahmu." Tuan itu kemudian menemukan bejana kayu. Dipoles dan terukir indah, berdiri dengan teguh. Bejana Kayu berkata: "Engkau dapat memakai aku, tuanku, kata bejana kayu. Tapi aku lebih senang bila engkau memakaiku untuk buah-buahan, bukan untuk roti." Kemudian tuan itu melihat ke bawah dan melihat bejana tanah liat. Kosong dan hancur, terbaring begitu saja. Tidak ada harapan untuk terpilih sebagai bejana tuan itu. Bejana Tanah Liat hanya diam. Tuan berkata: Ah! Inilah bejana yang aku cari-cari. Aku akan perbaiki dan kupakai, dan akan aku buat sebagai milikku seutuhnya. Aku tidak membutuhkan bejana yang mempunyai kebanggaan. Tidak juga bejana yang terlalu tinggi untuk ditaruh di rak. Tidak juga yang mempunyai mulut lebar dan dalam. Tidak juga yang memamerkan isinya dengan sombong.Tidak juga yang merasa dirinya selalu benar.Tetapi yang kucari adalah bejana yang sederhana yang akan kupenuhi dengan kuasa dan kehendakku. Kemudian ia mengangkat bejana tanah liat itu. Ia memperbaiki dan membersihkannya dan memenuhinya, ia berbicara dengan lembut kepadanya, "Ada tugas yang perlu engkau kerjakan, jadilah berkat buat orang lain, seperti apa yang telah kuperbuat bagimu." Demikianlah halnya dengan Tuhan. Ia mencari orang-orang yang rendah hati dan mau berjalan menurut kehendak dan kemauan Tuhan. Dan tentunya orang yang mau dibentuk, sekalipun harus melalui hal-hal menyakitkan.