HOME

Tampilkan postingan dengan label Khotbah Pergumulan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khotbah Pergumulan. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Juli 2013

Mengatasi Rasa Bersalah Untuk Bangkit

Mazmur 51:3-12
pemulihan-mengatasi-rasa-bersalah-untuk-bangkit3. Kasihanilah aku, ya, Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! 4. Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! 5. Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. 6. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kau anggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu. 7. Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku. 8. Sesungguhnya, engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku. 9. Bersihkanlah aku dari pada dosaku  dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju! 10. Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kau remukkan bersorak-sorai kembali! 11. Sembunyikanlah wajahMu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku! 12. Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!

Apakah saudara  merasa bersalah hari ini atau pada hari-hari yang sudah berlalu ? Minggu ini saya merasa bersalah karena tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dapat saya lakukan, tidur  terlalu larutsehingga membuat kepala saya pusing, saya telah batal mengunjungi seseorang yang sedang berada di rumah sakit. Rasa bersalah itu dapat saja terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari karena kita tidak  melakukan sesuatu yang seharusnya, misalnya  telah berbicara menyinggung/menyakiti hati  orang lain, telah marah secara berlebihan, tidak mengendalikan lidah, terlalu curiga, terlalu khawatir, tidak terbuka, tidak jujur, telah mencemaskan sesuatu yang tidak terjadi, tidak belajar ketika akan menghadapi ujian sekolah dan lain-lain.


Apakah rasa bersalah itu ?

Rasa bersalah adalah sebuah perasaan yang tidak merasa bahagia,tidak merasa ada damai  dan tidak tentram. Perasaan yang buruk, salah, tidak berharga, merasa gagal, merasa malu dan kalah karena sesuatu perbuatan yang telah dilakukan. Para ahli psikologi berpendapat bahwa perasaan bersalah itu muncul karena kegagalan untuk mencapai standar-standar perilaku yang telah kita tetapkan sendiri. Misalnya ketika kita telah mengecewakan atau menyakiti hati seseorang, itu merupakan suatu perilaku yang buruk atau dosa.
Maka solusinya adalah kita belajar cara hidup yang  baik agar tidak merugikan oranglain atau siapapun. Jika ini kita lakukan tentunya kita tidak akan merasa bersalah. Pandangan seperti ini melihat bahwa dosa itu adalah masalah horizontal saja, yaitu hubungan sesama antar manusia.Berbeda dengan pandangan Alkitab,bahwa dosa itu juga memiliki dimensi vertikal, yaitu hubungan manusia dengan Allah.
Rasa bersalah itu sebagaimana yang telah dilakukan oleh Daud, adalah merupakan suatu dosa.Dosa itu menyakiti hati Allah.Alkitab mengatakan bahwa pada dasarnya kita semua bersalah.“Tidak ada yang benar, seorangpun tidak”, (Roma 3:10).Artinya kesalahan itu sifatnya universal atau umum.Di mata Allah semua manusia bersalah, karena manusia cenderung tidak mau dipimpin oleh Allah dan memberontak terhadap-Nya.

Apa yang  Daud telah ungkapkan dalam Mazmur  51 ini, adalah sebuah pengakuan dosa dari Daud. Nabi Natan telah diutus Tuhan datang kepada Daud supaya membeberkan dosa perjinahan yang telah dilakukan Daud dan pembunuhan yang telah direncanakan/dilakukan oleh Daud, dalam kisah 2 Sam.12 : 1-13. Dalam kisah ini, Daud  telah melakukan perjinahan dengan istri Uria bernama Batsyeba, dan karena hendak mengambilnya menjadi istrinya maka Daud dengan sengaja merencanakan dan membiarkan Uria mati dalam peperangan.

“Ditulisnya dalam surat itu, demikian: “Tempatkanlah Uria dibarisan depan dalam pertempuran yang paling hebat, kemudian kamu mengundurkan diri dari padanya, supaya ia terbunuh mati”, 2 Sam 11:15. Ini merupakan sebuah rencana pembunuhan yang dibuat oleh Daud terhadap Uria dan  Uriapun mati dalam pertempuran. Maksudnya ialah supaya ia dapat memiliki Batsyeba, mengambilnya menjadi isterinya.
Nabi Natan kepada Daud, dan ia menceriterakan  kepada Daud tentang seorang kaya yang mengambil anak domba satu-satunya kepunyaan orang miskin untuk menjamu tamu orang kaya tersebut,maka marahlah Daud, agar supaya orang kaya itu dihukum mati karena tidak mengenal belas kasihan. Melalui cerita itu Natan menegur Daud bahwa Daudlah orang itu.

“Mengapa engkau menghina Tuhan dengan melakukan apa yang jahat di mataNya?”, 2 Samuel 12: 9a. Akhirnya Daud sadar akan apa yang telah diperbuatnya, keadaan itu membuat Daud menjadi gelisah dan tidak tenang, hidupnya diliputi oleh rasa bersalah. Apa yang tidak berkenan dan yang jahat bagi  Allah telah ia perbuat.  Daud merasa hidupnya sudah tidak nyaman lagi karena ia terus dibayang-bayangi oleh perbuatannya yang berdosa itu.  Ia merasa bersalah, dan hatinya tidak tentram. Daud menginginkan ketenangan itu kembali dalam hidupnya, namun hal tersebut tidak akan diperolehnya sebelum ia membuat pengakuan yang jujur dengan sepenuhnya kepada Allah. Bagaimanakah Daud mengatasi rasa bersalahnya untuk bangkit kembali ?

Ada 4 hal yang dilakukan oleh Daud, yaitu:
  1. Bergumul melawan  dosa

Daud tidak langsung bertobat ketika ia berselingkuh dengan Batsyeba. Memerlukan beberapa waktu lamanya  sampai hal yang telah dilakukannya itu menjadi suatu pergumulan dalam hatinya. Setelah nabi Natan datang kepada Daud dan menceriterakan kisah tentang seorangkayayang  mencuri domba dari  seorang miskin, barulah Daud mengerti tentang kesalahannya. Mendengar kisah ini Daud baru sadar akan kejahatan yang telah ia perbuat itu. 

Untuk memperoleh pengampunan dan pembaharuan dari Allah atas kesalahan dan dosa yang telah diperbuat itu tidaklah mudah. Apalagi jika seseorang itu telah mengalami keselamatan dan kemudian terjerumus ke dalam suatu kesalahan atau dosa maka akan mungkin mengalami pergumulan rohani yang panjang untuk mengalami pertobatan dan pemulihan. Pengampunan selalu ada pada Allah, yang Ia kehendaki ialah  supaya kita belajar untuk menjadi lebih baik lagi. 

Dari Daud kita dapat belajar bahwa betapa menakutkan melukai hati Allah yang kudus setelah kita diberkati oleh Allah. “Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku”, ayat 5. Ini merupakan suatu kesadaran tentang tanggungjawab pribadi atas kesalahannya. Kata yang sering muncul dalam bacaan Firman Tuhan di atas ialah pelanggaranku, kesalahanku, dan dosaku.

Daud tidak mencari-cari alasan atau pembelaan, dan pembenaran terhadap dirinya mengapa iasampai berbuat dosa. Daud juga tidak menyalahkan pada keadaan yang membuat kesempatan itu terjadi, juga dia tidak  mempersoalkan ketidak-pengetahuan, atau karena kebutuhan, karena godaan, juga dia tidak melibatkan Batsyeba yang harus ikut menanggung kesalahan dalam perjinahannya, sehingga pembunuhan itupun terjadi. 

Kesalahan yang dilakukan Daud itu adalah tanggungjawab Daud sendiri. Pengakuan yang sejati itu ialah mengakui kesalahannya dengan tidak mencoba berdalih. Daud tidak mau tinggal terus menerus dalam dosanya, karena itu ia datang kepada Allah untuk memohon pengampunan supaya dipulihkan.  “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”, 1 Yohanes 1:9

Kita harus bergumul melawan dosa, sebab dosa itu melawan Tuhan.Jangan biarkan dosa itu tetap tinggal dalam hidup kita tapi lawan dan perangilah itu.Hadapi dosa itu,dengan bersikap terbuka dan jujur dihadapan Allah.Jangan ada yang disembunyikan akuilah semua kesalahan dan dosa itu kepada Allah.Allah pasti mendengarkan semua beban kita, karena Ia selalu setia terhadap kita. Ia mengasihi kita.
Membiarkan dosa dan tidak mengakuinya, ini mencegah kita untuk menikmati hubungan dan persekutuan dengan Allah dan dengan sesama. Orang yang menyangkal dosanya atau berusaha menyembunyikannya, tidak mau mengakuinya, tidak menyesali dan meninggalkannya, tidak akanmerasa tenang dalam hidupnya dan tidak akan bertumbuh secara rohani. Pengampunan dan kemurahan Allah itu tersedia bagi semua orang yang mau datang kepadanya dengan sungguh hati untuk menerima pemulihan. “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi”, Amsal 28:13.

2. Mengakui bahwa dosa itu melawan Tuhan

 

Setelah Daud menyadari kesalahanyang telah ia perbuat kepada manusia, ia juga menyadari bahwa terutama dosanya itu ialah kepada Allah. Firman Tuhan mengatakan bahwa dosa itu adalah perbuatan yang jahat dimata Allah.“Mengapa engkau menghina Tuhan dengan melakukan apa yang jahat di mataNya?Uria, orang Het itu, kau biarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kau ambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kau biarkan dibunuh oleh pedang bani Amon”, 2 Samuel 12:9.

Terlepas dari perbuatan Daud terhadap Batsyeba dan Uria suaminya, maka tindakan Daud itu pada akhirnya adalah menentang Allah. “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kau anggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu”, ayat 6. Daudpun membuat sebuah pengakuan kepada Allah yang tanpa tersembunyi tentang kesalahan yang telah diperbuatnya. “Dosaku kuberitahukan kepadaMu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku”, dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku, Mazmur 32:5.

Mengakui dan memberitahukan dosa dengan hati yang tulus dan sungguh-sungguh akan menghasilkan pengampunan.Dengan pengakuan tersebut apabila Allah menjatuhkan hukumanNya atas orang berdosa Allah tidak boleh dituduh kejam.Daud mengakui bahwa Allah itu adil dalam segala keputusanNya.Resiko akibat dosa yang telah diperbuatnya itu dapat diterima oleh Daud sebagai maksud baik Allah.
Ada resiko yang harus diterima oleh Daud akibat dari perbuatan dosanya itu, yaitu anaknya yang dikandung oleh Batsyeba itu ditulahi oleh Allah sehingga sakit dan akhirnya mati. Sekalipun Daud telah berpuasa dan menangis untuk  berdoa minta belaskasih Allah agar anak itu tetap hidup tetapi keputusan Allah tetap terlaksana. Allah mau menunjukkan keadilanNya walaupun hati Daud terluka oleh kematian anak tersebut, karena itu Daud sangat menyadari bahwa keputusan Allah adalah baik apapun juga.  Sekalipun Daud bersedih tetapi ia tidak bisa menolak kehendak Allah dan Daud  merima keputusan Allah itu sebagai sesuatu yang baik.

Sebab itu ketika anaknya itu mati, Daud bangkit dan menyembah Tuhan.Daud tetap menyembah Tuhan disaat luka dihatinya masih ada akibat kesalahannnya itu.“Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah Tuhan dan sujud menyembah”, 2 Samuel 12:20a.
Kesalahan itu mengandung resiko yang harus ditanggung. Saudaraku, bila saat ini engkau sedang mengalami suatu sakit, luka atau derita akibat kesalahan yang telah diperbuat di masa yang lampau anggaplah itu sebagai bentuk perhatian dan kasih Allah. Terimalah luka atau penderitaan yang wajar kita tanggung itu karena  akibat dosa atau  kesalahan kita, tapi jangan pandang  itu sebagai hukuman yang berkelanjutan, namun pandanglah itu sebagai sebuah proses penyembuhan yang akan terjadi kemudian setelah kita mengalami perubahan dalam hidup kita. Jika kita menyadari bahwa sesuatu beban yang kita terima/pikul saat ini adalah sebagai akibat dari kesalahan dan dosa yang telah kita perbuat, maka hal itu  harus kita terima sebagai sesuatu keputusan yang adil dari Tuhan.  Jadikan hal itu sebagai suatu peringatan atau sebagai kenangan indah untuk kita merasakan kasih Allah.

Jangan kecewa, jangan putus asa, tetaplah menyembah Dia. Dia mengasihi, sangat mengasihi sekalipun kita orang berdosa. Sebab tidak selamanya kita dibiarkan menderita. Justru dengan resiko yang diterima itu kita dapat merasakan betapa besar kasih dan keadilanNya.Ia pasti menyediakan yang terbaik lagi di masa yang akan datang sesuai proses perubahan hidup yang kita jalani. Dia akan mengubahkan keadaan yang buruk untuk menjadi sebuah kebaikan.

3. Menyadari orang berdosa  memerlukan pengampunan Allah

 

Daud mengakui bahwa sejak dari kandungan atau lahir dia memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa. Daud menyatakan bahwa manusia itu sifatnya berdosa, dengan kata lain setiap orang itu sejak dari lahir memiliki suatu kecenderungan untuk melakukan suatu kesenangan dan keiinginan diri sendiri, yang bahkan dapat menyebabkan orang lain menderita.
“Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku”, ayat 7. “.. hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmatMu yang besar!’, ayat 3. Hapuskan artinya ‘dikikis’ dibersihkan seperti sebuah tulisan dihapuskan, sehingga tidak kelihatan lagi. “Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!”, ayat 4. Dosa dilihat sebagai sesuatu yang berurat berakar secara dalam yang memerlukan pengobatan intensif, yaitu dengan membuang habis dosa sehingga menjadi tampak bersih.

Kecenderungan berdosa ini hanya dapat dibersihkan dari kehidupan kita melalui penebusan di dalam Yesus Kristus yang telah membayar, menebus kita dengan kematiannya di kayu salib dan oleh tuntunan Roh Kudus.Kita membutuhkan pertolongan Tuhan, sebab usaha kita hanyalah sia-sia jika bukan karena Tuhan yang menolong untuk membebaskan kita.Pengampunan yang diberikan Tuhan itu akan memulihkan keadaan kita. Bersyukurlah kepada Tuhan yang telah menyediakan pertolongan itu melalui kematianNya di kayu salib. Oleh sebab itu siapa yang datang dan percaya kepadaNya akan diselamatkan.

4. Penyerahan diri kepada Allah untuk dibaharui

 

Kita sebagai orang percaya sangat memerlukan Roh Allah mendiami kita untuk menciptakan di dalam diri kita hati yang selalu menjauhi dan membenci dosa. Roh Kudus itu akan membaharui kita untuk selalu merindukan dan melakukan kehendak Allah dalam hidup kita. Hanya Allah saja yang dapat membuat  kita menjadi ciptaan baru dan memulihkan kehidupan kita. “Jadikanlah aku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!”, Mazmur 51: 12.

Kita harus datang kepada Allah dan meminta pengampunanNya karena terhadap Allah kita telah berdosa. Daud mengakui kedalaman yang sebenarnya dari kesalahannya itu sebagai keadaan manusia sejak dilahirkan.Hanya Allah yang dapat membersihkan, hanya Allah pula yang dapat melaksanakan pemulihan jiwa dan tubuh secara sempurna dari kehancuran dan akibat dosa.“Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju! Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali! (ayat 9-10).

Daud tidak akan merasa tenang sebelum ia mengutarakan segala dosanya dihadapan Allah. Perasaannya perih oleh penyesalannya atas keterlibatannya dalam pembunuhan terhadap Uria, Daud membawa jiwanyayang hancur itu kepada Allah sebagai persembahan yang sejati. “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur , hati yang patah dan remuk tidak akan Kau pandang hina ya Allah”, Mazmur 51:19. Tanpa jiwa yang hancur tampaknya segala korban itu tidak bermakna.Setelah Daud membuat pengakuan dosanya, maka nabi Natan langsung mengumumkan pengampunan dari Allah. Allah mengampuni Daud dan  Daud sadar tentang keajaiban kasih dan pengampunan yang begitu indah diberikan Allah kepadanya atas kesalahannya yang sangat besar itu.

Tidak mudah bagi Daud mengakui dosanya itu kepada Allah, namun ia berjuang melawan ungkapan hati terdalamnya itu kepada Allah sekalipun diliputi oleh rasa malu, direndahkan dan dipatahkan oleh rasa bersalahnya. Namun  akhirnyaia ditolong dari keputus-asan itu oleh  iman penyesalannya di dalam kasih Allah.

Dampak dari rasa bersalah itu memang sangat dalam seperti  perasaan ditolak, ketidakmampuan untuk mengatakan tidak, munculnya depresi, kecemasan, dan kehilangan keintiman rohani dengan Allah. Kita bukanlah sebagai orang yang pertama merasakannnya. Jangan lari dan menghukum diri menjadi korban rasa bersalah, sebab jika ini dibiarkan maka keputus-asaan dan kegagalan akan mendatangi kita. Alkitab telah mencatat dalam kitab Mazmur, tentang  gambaran keputus-asaan itu, “Sebab kesalahanku telah menimpa kepalaku; semuanya seperti beban berat yang menjadi terlalu berat bagiku”, Mazmur 38:5.
Saudaraku, Allah mengerti beban berat itu, dan Ia menyediakan jalan untuk mengatasinya.  Oleh kematian Yesus Kristus di kayu salib, Ia menyatakan kita tidak bersalah dan ditebus dari dosa.  Jika kita terus saja berpegang pada rasa bersalah itu, maka kita seolah-olah lebih tahu dari pada-Nya, dan kita menyia-nyiakan pengorbananNya yang rela mati buat kita.Tuhan meminta kita untuk memperbaharui pikiran kita dengan kebenaran FirmanNya untuk membantu kita supaya terhindar dari ganjaran yang tidak menyenangkan.Keadaan memang tidak berubah tapi Allah akan memperbaharui kita dengan memberi kekuatan yang baru serta ia akan mengubah hidup kita menjadi manusia yang baru bagiNya, karena walaupun kita berdosa tapi dapat dibenarkan olehNya karena iman kita kepadaNya kepada kasihNya.
Secara emosional kita mungkin hidup begitu lama dibawah rasa bersalah sehingga menghukum diri sendiri dan tidak merasa ada kebebasan lagi  untuk menjadi baik. Bangkitlah, hadapi rasa bersalah itu, akui dihadapan Tuhan dengan terbuka, dengan jujur dan minta pengampunan dari Tuhan dan bertobat. Jangan berhentimencoba untuk dipulihkan, buang putus asa itu dan rasa ketidakbergunaan itu, datanglah kepadaNya sebab Allah selalu menunggu kita dengan setia.Berserahlah dan minta pengampunan dari Allah. Curahkan semua isi hati, tekanan-tekanan dan beban-beban berat yang menghimpit itu.Meraunglah, menangislah, menjeritlah kepada Tuhan, Dia menunggu dan mendengarkan. Bawalah seluruh jiwa dan hati yang hancur itu kepada Tuhan. Tuhan pasti meringankan beban itu dan memberikelegaan serta bebaskan dari semua beban berat yang menindih itu.  Allah tidak ingin membinasakan umatNya, Ia selalu menawarkan pengampunan jika kita mau bertobat. Pengampunan itu disediakan bagi semua orang , yang sekalipun telah berbuat dosa. “Sekalipun dosamu merah seperti kermizi, akan menjadi putih seperti salju, sekalipun  berwarna  merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih  seperti bulu domba, Yesaya 1:18.
Jika  ini sudah datang mengakui kesalahan itu kepada Tuhan dengan rendah hati yang tulus, rasakan betapa besar pengampunan yang diberikanNYa itu, rasakan betapa besar kasihNya itu. Allah adalah kasih.Dia Allah mengasihi, mengasihi orang berdosa.  Dia merindukan orang berdosa datang kepadaNya untuk dipulihkan.  Iblis memang suka mematahkan semangat, dan mengintimidasi kitasebagai orang tidak berguna orang berdosa, sekarang katakan kepada iblis bahwa engkau  telah dibebaskan dan dipulihkan Allah.Engkau sudah dibebaskan, sudah dimerdekakan oleh kasih karunia Tuhan.

Hiduplah sebagai seorang anak Allah yang telah diampuni. Buang rasa malu itu karena  hanya membuat jurang pemisah dalam hubungan kita dengan sesama dan Allah.Terimalah kebebasan dari rasa bersalah itu dalam kasih Allah yang telah dikaruniakanNya melalui pengampunanNya.  Bangkitlah sebagai seorangpemenang yang telah dibebaskan dan dibaharui dalam kasihNya. Berjalanlah dalam terang Firman Allah dan Roh Kudus, sebab di dalam Tuhan, masa depan itu sungguh ada. “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang”, Amsal 23:18. Tuhan mengasihimu.
.
“Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis didalamnya, sebab waktunya sudah dekat”, Wahyu 1:3.

Sikap Pantang Menyerah: Menarik Perhatian Yesus

Bartimeus adalah seorang yang buta, yang duduk di pinggir jalan. Ia belum pernah melihat bukti yang nyata bahwa Yesus mampu melakukan mujizat. Meskipun  dia tidak dapat melihat dengan mata jasmaninya, tetapi  ia memiliki mata hati yang terbuka,  mampu melihat kuasa Yesus, dan percaya akan apa yang ia telah dengar tentang  Yesus. Bartimeus percaya  pada kemampuan Yesus  yang  sanggup untuk menciptakan bola mata yang baru baginya. Bartimeus ini adalah orang yang beriman, karena mata hatinya terbuka, ia percaya pada hal yang belum dilihatnya secara jasmani.

Ketika ia mendengar bahwa Yesus sedang  berjalan di dekatnya, maka iapun segera berseru memanggil nama Yesus. Berada dekat dengan  kerumunan orang banyak yang berbondong-bondong itu, tentunya suasananya sedang ramai, banyak suara orang yang sedang berbincang-bincang, mereka mungkin sedang membicarakan mengenai mujizat-mujizat yang telah dilakukan oleh Yesus.  Dalam suasana seperti  itu, Bartimeus menggunakan kesempatan supaya dapat  memperoleh mujizat dari Yesus. Yang dilakukan oleh Bartimeus ialah  berseru untuk memanggil namaNya. Sekalipun banyak orang menyuruhnya agar dia diam, tetapi ia tetap teguh pada pendiriannya sebab ia memiliki sebuah tekad  yaitu agar suaranya yang sedang memanggil-manggil  nama Yesus itu, dapat didengar langsung  oleh Yesus sendiri. Usahanya itu tidak sia-sia, akhirnya iapun memperoleh apa yang diharapkannya.

Kisah yang menarik mengenai Bartimeus ini, mari kita bandingkan  sejenak dengan kisah Yosua yang memerlukan mujizat dari Allah pada waktu ia berperang melawan musuh-musuhnya, dalam Yosua 10:12-14 , “Lalu Yosua berbicara kepada Tuhan pada hari Tuhan menyerahkan orang Amori itu kepada Israel; ia berkata dihadapan orang Israel:”Matahari berhentilah di atas Gibeon dan engkau bulan, di atas lembah Ayalon!”. Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak , sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur?  Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh”.  Yosua meminta sebuah mujizat dari Allah, pada saat mereka  berperang melawan musuh-musuhnya. Permohonan Yosua itu dikabulkan oleh Allah, untuk menolong mereka memperoleh kemenangan. Iman Yosua sanggup menghentikan matahari, sedangkan jeritan iman dari Bartimeus sanggup menarik perhatian Yesus, dan  menghentikan langkah Yesus.

Hidup dalam dunia ini  setiap orang selalu diperhadapkan dengan berbagai  macam tantangan dan kesulitan. Menghadapi  berbagai  macam persoalan yang begitu kompleks, kadang-kadang membuat kita bingung, sepertinya jalan yang kita temui buntu, tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan,  sehingga kitapun membutuhkan pertolongan yang datangnya dari Tuhan, yaitu mujizat.
Suatu hal yang sungguh menarik untuk diperhatikan dari Bartimeus ialah sikapnya yang pantang menyerah itu, dapat menghentikan langkah Yesus, ia  dapat menarik perhatian Yesus. Bagaimanakah sikap pantang menyerah  Bartimeus ini sehingga menarik perhatian  Yesus kepadanya?

Ada empat hal, dalam sikap pantang menyerah yang dimiliki oleh Bartimeus untuk menarik perhatian Yesus, yaitu: 

 

1. Tidak mau diam

 

Bartimeus buta, tidak dapat melihat, ia tidak mengetahui dimana tepatnya posisi Yesus sedang  berada. Bartimeus  juga tidak bisa berjalan  mendekat  untuk  menghampiri Yesus, sebab tidak ada yang menuntun dia datang kehadapan Yesus, namun ia tidak  diam saja dengan keadaannya itu. Ia tidak mau menunggu, Bartimeus tidak mau tinggal diam, ia melakukan sesuatu tindakan iman, yang dapat dilakukannya yaitu, dengan   berteriak  berseru memanggil  nama Yesus. Dorongan yang membuat dia berseru ialah mata rohaninya yang percaya pada Yesus. Imannya timbul, melalui apa yang telah ia dengar tentang Yesus.  Ia telah mendengar berita tentang Yesus yang sanggup mengadakan tanda-tanda mujizat. Imannya adalah sangat percaya kepada kuasa Yesus yang sanggup memberikan apa yang ia butuhkan, yaitu supaya ia dapat melihat, karena itu iapun berseru sekeras-kerasnya memanggil nama Yesus, supaya  terdengar oleh Yesus di tengah kerumunan orang banyak itu.  Pada Ayat 47, ketika ia mendengar bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru :”Yesus Anak Daud, kasihanilah aku!”

Dalam menghadapi berbagai-bagai persoalan dalam kehidupan ini, apakah kita mengandalkan iman kita hanya pada penglihatan saja? Atau telah mampukah  kita  memiliki iman, sekalipun belum melihat, karena telah mendengar akan Firman Allah, dan percaya. Sebab Kitab Roma mencatat bahwa iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus.   “ sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat”, 2 Korintus 5:7. Mampukah kita terus berjalan dengan iman, dan bukan berjalan dengan penglihatan. Milikilah iman.

Bartimeus beriman, setelah mendengar Firman  Allah, walaupun ia tidak melihat bukti-bukti nyata dari kuasa/mujizat yang telah dilakukan oleh Yesus. Bartimeus hanya mendengar, mungkin dari cerita orang lain, atau ia mendengarkan dengan seksama tatkala beberapa orang sedang membicarakan  kuasa  yang dimiliki Yesus itu. Bartimeus sungguh percaya pada apa yang telah didengarnya itu, sebab itu ia tidak mau tinggal diam saja,  ia berseru dengan iman pada Yesus dan memanggil nama Yesus. Ia percaya akan dapat  menerima kesembuhan juga dari  Yesus.

Tatkala menghadapi persoalan, janganlah kita diam saja, dan janganlah kita menunggu. Kita harus bertindak, datanglah  pada Yesus, dengan berseru dengan iman  melalui  doa.   Allah Maha Tahu, Yesus  tahu kalau dalam perjalanannnya itu ada orang buta bernama Bartimeus yang duduk di pinggir jalan itu. Yesus tertarik dengan seruan Bartimeus. Respon  dari  Bartimeus itu , yang berseru memanggil  namaNya, adalah sangat menarik perhatian Yesus.  Allah mau kita bertindak. Melalui perbuatan atau sikap yang kita nyatakan,  Allah akan melihat apakah ada iman pada kita.  Allah mengetahui segala hal tentang kehidupan kita, baik kesulitan, penderitaan, dan kebutuhan kita. Allah tidak tertarik dengan masalah kita, tetapi Allah sangat tertarik pada iman kita. Tindakan iman kita, dapat menarik perhatian Allah kepada kita.  “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak diserti perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati”, Yakobus 2:17.

2.Tidak terpengaruh oleh keadaan

 

Meskipun saat  itu orang banyak menyuruhnya supaya diam, mungkin ada yang  menghardiknya, memarahinya, yang berusaha untuk membungkam dia, namun Bartimeus tidak mau dipengaruhi, ia tidak peduli dengan omongan orang lain, ia tetap fokus pada Yesus saja.  Pada ayat 48, banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin  keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanlah aku!” Bartimeus tidak mau terpengaruh oleh keadaan, yaitu sikap mereka  yang mau menahan  Bartimeus supaya diam. Semakin dilarang, bahkan ia semakin keras  berseru  untuk  memanggil Yesus. Ia tetap mengarahkan hatinya dan fokusnya pada Yesus.  Bisa kita bayangkan, keadaan itu sedang ramai, ada banyak suara, dan  Bartimeus  ingin sekali teriakannya  itu sampai  terdengar oleh Yesus.  Bartimeuspun  berusaha  agar seruannya itu mampu melebihi  suara mereka, supaya Yesus dapat mendengarnya.

Banyak kali kita terhenti, terdiam, bingung bahkan sampai putus asa bila kita hanya fokus pada persoalan atau keadaan yang sedang kita hadapi. Ketika kita hanya memikirkan pada  besarnya dan  beratnya persoalan hidup ini, maka sepertinya tiada jalan keluar lagi yang dapat kita temui. Keadaan itu dapat mempengaruhi membuat kita menjadi  lemah tak berdaya, lelah, capek, marah, patah semangat dan kecewa. Hal-hal ini akan menghalangi kita untuk memfokuskan diri pada pertolongan dari Allah.  Seberat apapun persoalan yang  sedang kita hadapi janganlah terpengaruh oleh keadaan, sekalipun itu buruk keadaannya, tetapi pandanglah kepada Yesus diatas segala persoalan. Ingatlah kepada Yesus, bersama Yesus pasti ada jawaban.

Daud katakan, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku”. Doa mampu menutup mata jasmani kita sehingga kita tak mudah terpengaruh oleh keadaan dan kenyataan pahit yang sedang terjadi dalam hidup kita.  “Tetaplah berdoa”, 1 Tesalonika 5:17. “Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan”, Mazmur 145:18. Berdoalah dengan tidak jemu-jemu.

3. Tidak malu

 

Karena iman yang dimiliki oleh Bartimeus, maka ia tidak malu atau gengsi di antara orang banyak yang berbondong-bondong itu, walaupun ia hanya seorang buta, yang cuma mampu duduk di pinggir jalan. Ia percaya bahwa Yesus mengasihi semua orang.  Justru karena iman yang ia miliki itu, ia tidak malu dengan keadaannya, bahkan  ia memiliki kekuatan untuk terus berusaha mencari perhatian dari Yesus.  Semua orang yang menantikan Tuhan tidak akan mendapat malu, dan siapa yang percaya kepadaNya tidak akan dipermalukan.  “ kepadaMu mereka percaya, dan mereka tidak mendapat malu”, Mazmur 22: 6b. Seruan Bartimeus itu, sangat berharap pada belas kasihan Yesus, dan ia mampu membuat Yesus memperhatikannya, dan menerima kesembuhan.

Janganlah malu dengan keberadaan, dan status kita.  Yesus tidak pernah pilih kasih untuk menyatakan kuasaNya. Yesus mengasihi semua orang, bahkan ia selalu mencari  orang-orang  yang miskin,  yang menderita, orang sakit,  dan orang berdosa, untuk memulihkan hidup mereka. Setiap orang berharga di mata Tuhan dan dikasihiNya. Tidak  ada yang  tersembunyi  bagi  Tuhan, setiap hati yang  mau terbuka  kepada  Yesus, pasti  dipulihkanNya.  Jangan terintimidasi oleh keadaan atau keberadaan kita, yang melemahkan  iman.  Rendahkan saja diri dihadapan Yesus, akui saja semua keberadaan kita pada Yesus, terbukalah dan percayalah  bahwa Yesus tidak pernah mempermalukan.  Mata Tuhan tertuju  kepada  setiap orang yang berharap akan kasih setiaNya.

“Tuhan itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang  yang sombong dari  jauh”, Mazmur 138:6. “Rendahkanlah dirimu dihadapan Tuhan, dan  Ia akan meninggikan kamu”, Yakobus 4:10. Kalau  orang banyak itu tidak menghargai Bartimeus, malah disuruh supaya ia diam, artinya orang banyak itu merasa Bartimeus tidak layak menerima mujizat dari  Yesus. Namun, Yesus  malah memberikan perhatianNya kepada  Bartimeus, sampai  Yesus menghentikan langlahNya, dan memanggilnya.

4. Tidak menyerah

 

Bartimeus pantang menyerah, ia tidak mau menyerah, karena iman, ia tidak mau berhenti  untuk terus berseru  memohon sampai  Yesus menjawab dia.  Seruannya itu mampu menghentikan langkah Yesus.  Sikap pantang menyerah Bartimeus itupun membuat Yesus berhenti.  Pada  ayat 49, Lalu Yesus berhenti  dan memanggilnya, supaya ia datang dihadapanNya. Akhirnya  kesempatan yang ditunggu oleh Bartimeus itu datang. Ia menanggalkan jubahnya, artinya ia segera  mengambil  kesempatan itu, langsung mengampiri Yesus. Bartimeus  mau memiliki hidup yang baru.

“Tanya Yesus kepadanya: “Apa yang  kau kehendaki  supaya  Aku perbuat bagimu?”, Markus 10:51.  Luar biasa, adalah hal yang sangat luar biasa, bila Yesus mengatakan itu juga bagi saudara saat ini, apakah yang saudara akan  katakan kepadaNya ?  Haleluya!  Bila saudara  merasakan, Tuhan sedang mengatakan ini kepadamu “Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Katakanlah , katakan  saja, apa yang saudara kehendaki dari Tuhan, ucapkanlah padaNya, bila saudara dapat merasakan kehadiranNya saat  ini dalam hidupmu. Haleluya!

Dihadapan Yesus, dan kepada Yesus, Bartimeus meminta supaya ia dapat melihat. Yesus telah melihat perbuatan iman Bartimeus yang pantang menyerah, karena itu Yesus mengatakan kepadanya “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan Engkau!”. Pada saat itu juga melihatlah ia. Bartimeus memperoleh apa yang dibutuhkannya dari Yesus.

Iman, membuat  kita  pantang menyerah, iman memampukan kita  berseru tiada henti dalam doa kepada Tuhan. Orang  yang pantang menyerah tetap kuat pada pendiriannya, dan  tidak putus-putusnya,  akan terus  menerus berseru  untuk mengetuk pintu hati Tuhan. Orang  yang pantang menyerah, tidak  kenal  putus  asa, sekalipun  harus mengetuk  pintu Surga selama bertahun-tahun.

Sikap yang pantang menyerah merupakan sebuah kendaraan yang akan membawa kita kepada perbuatan iman untuk menerima pertolongan dari Tuhan. Jangan menyerah, sebab  orang  yang pantang menyerah dapat menarik perhatian Allah.  Apapun yang  sedang saudara alami saat ini, jangan menyerah,  tetap berharap pada  pertolongan Tuhan, Tuhan  tidak akan meninggalkan orang  yang mencariNYa.  “Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan, dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak”, Mazmur 37:5.

Yesus adalah orang yang pantang menyerah, Dialah teladan kita. Pandanglah pada salib Yesus, Dia tetap memikul salib itu sampai mati di kayu salib untuk menggantikan kita yang  berdosa ini. Yesus tidak menyerah, sekalipun ia  harus menderita, disiksa,  ditikam sampai mati disalibkan, Yesus tidak menjadi lemah dan putus asa.  Yesus tetap memuliakan Allah dan  tidak goyah dalam penderitaanNya, Yesus tetap mengampuni dan  tidak  malu diolok-olok, dituduh sebagai orang.  Yesus melakukannya bukan saja untuk menarik perhatian Allah, karena  melaksanakan  Firman Allah. yaitu Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan (Matius 26:2), tetapi untuk menarik perhatian dunia ini  pada kasihNya  yang  begitu besar. Rela berkorban untuk menebus dosa dan menyelamatkan manusia. Penyaliban telah berubah menjadi kebangkitan.

Kiranya Paskah yang kita rayakan,  membawa semangat kepada kita ” pantang menyerah”, jangan menyerah sampai Tuhan memberi pertolonganNya.  “Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diriNya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa”, Ibrani 12:3.

“Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang  menuruti apa yang ada tertulis didalamnya, sebab waktunya sudah dekat”. Wahyu 1:3.