HOME

Tampilkan postingan dengan label Khotbah Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khotbah Iman. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Juli 2013

Pilihan Hidup: Belajar Dari Abraham



“Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: ‘Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.’ Karena itu Abraham disebut: ‘Sahabat Allah.’ ” Yakobus 2:23
Pilihan Hidup: Belajar Dari AbrahamAbraham merupakan tokoh dalam Alkitab yang mempunyai peran yang sangat penting. Banyak kisah-kisah yang terjadi dalam hidupnya yang dapat menjadi pelajaran bagi kita semua umatNya. Melalui keturunan Abraham, lahirlah tokoh-tokoh Alkitab yang sangat luar biasa. Dan melalui keturunannya juga-lah Tuhan Yesus dilahirkan di dunia ini.
*courtesy of PelitaHidup.com
Dalam perjalanan hidup Abraham, banyak pilihan-pilihan yang dia lakukan untuk dapat mencapai apa yang telah Tuhan janjikan kepada dirinya. Tentunya Abraham juga tidak luput dari kesalahan, karena dia juga manusia. Tetapi Abraham juga belajar dari kesalahan-kesalahan yang ada untuk dapat mengambil pilihan yang lebih baik lagi yang tentunya sesuai dengan kehendak Tuhan.
Mari kita lihat beberapa kisah yang dapat kita pelajari, untuk diterapkan dalam menentukan pilihan dalam hidup kita:

1. Memilih Untuk Mengalah

“Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah.” Kejadian 13:11
Kisah ini dimulai dari para gembala dari Abram (belum ganti nama menjadi Abraham) dan Lot yang berkelahi memperebutkan tanah untuk menggembalakan ternak mereka (Kejadian 13:1-18). Untuk menghindari perkelahian, Abram mempersilahkan Lot untuk memilih bagian tanah yang dianggap baik menurutnya. Lot memilih lembah Yordan yang terlihat sangat baik. Abram-pun mengalah dan menetap di tanah bagian lainnya yaitu di Kanaan.
Kita semua tahu bahwa pada akhirnya tempat yang dipilih oleh Lot dimusnahkan oleh Tuhan, yaitu di Sodom dan Gomora.
Secara kasat mata mungkin Abram hanya mendapat tanah sisa dan terlihat tidak sebaik lembah Yordan yang banyak airnya. Tetapi Abram rela untuk mengalah dan menjauhi pertengkaran yang ada.
*courtesy of PelitaHidup.com
Dan kita melihat bahwa justru Tuhan memberikan yang terbaik bagi Abram.



“Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan,
sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya.” Kejadian 13:14-15
*courtesy of PelitaHidup.com
Ada saat-saat tertentu dimana Tuhan menuntut kita untuk mengalah dan menyerahkan segalanya kepada Dia. Di saat kita memilih untuk mengalah, maka kita akan belajar dan melihat bagaimana Tuhan bekerja dengan luar biasa dalam kehidupan kita. Kita akan melihat pembelaan Tuhan bagi hidup kita.
.

2. Memilih Untuk Percaya

“Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.” Kejadian 17:19
Umur Abraham saat itu sudah sembilan puluh sembilan tahun dan Sara berumur sembilan puluh tahun. Suatu hal yang mustahil bagi manusia untuk dapat memiliki anak pada umur itu. Hukum alam menyatakan bahwa manusia mempunyai batas umur jika ingin mempunyai atau melahirkan seorang anak.
Tapi Tuhan berfirman bahwa justru Abraham akan mempunyai keturunan melalui Sara. Dan melalui anaknya itulah Tuhan mengadakan perjanjian yang kekal baginya dan keturunannya.
Memang kisah ini tidak masuk di akal pikiran manusia. Tetapi Abraham memilih untuk mempercayai Tuhan yang dia sembah. Dia meyakini apa yang dijanjikan oleh Tuhan. Itulah sebabnya dia dijuluki sebagai bapa orang beriman. Oleh karena dia percaya kepada hal yang belum dilihat dan belum diterima.
“TUHAN memperhatikan Sara, seperti yang difirmankan-Nya, dan TUHAN melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikan-Nya.
Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya.” Kejadian 21:1-2
Janji Tuhan adalah ya dan amin. Jika Tuhan sudah berjanji, maka Dia akan menepatinya. Selama kita berpegang teguh kepada janji tersebut dan percaya kepadaNya, maka kita akan menerima janjiNya seperti yang telah dialami oleh Abraham.
*courtesy of PelitaHidup.com
Apa yang kelihatan mustahil saat ini di mata manusia, menjadi mungkin di mata Tuhan. Tidak ada hal yang mustahil bagi Tuhan, dan tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya kepadaNya.
“Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Lukas 1:37
“Jawab Yesus: ‘Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!’ ” Markus 9:23
.

3. Memilih Untuk Taat

“Firman-Nya: ‘Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.’ ” Kejadian 22:2
Setelah melalui ujian iman di poin nomor dua di atas, Abraham masih diuji oleh Tuhan. Anak satu-satunya yang merupakan anak perjanjian melalui mujizat yang luar biasa, harus dipersembahkan (dikorbankan) kepada Tuhan. Dengan kata lain, Abraham harus membunuh anaknya untuk dijadikan korban.
Sebagai orang tua yang memiliki pengharapan yang besar kepada anak satu-satunya itu, agar dapat meneruskan keturunannya sehingga dapat menjadi banyak seperti yang dijanjikan oleh Tuhan, tentu Abraham merasa terpukul mendengar perintah Tuhan tersebut.
Bagi kita yang sudah menjadi orang tua pasti mengerti dengan jelas apa yang dialami oleh Abraham saat itu. Sungguh suatu hal yang tidak mungkin jika kita melakukan hal tersebut terhadap anak sendiri.
Tetapi Abraham tidak mengeluh atau bahkan membantah perintah Tuhan. Dengan langkah mantap dia menyiapkan semuanya dan melakukan persis seperti yang diperintahkan oleh Tuhan.
*courtesy of PelitaHidup.com
Abraham memilih untuk taat dibandingkan mengeluh atau bersungut-sungut.
Dan melalui ketaatannya tersebut, sekali lagi kita melihat kuasa Tuhan bekerja. Tepat di saat Abraham akan menikamkan pisaunya untuk menyembelih anaknya, malaikat Tuhan berseru untuk menghentikan Abraham. Di saat itulah Tuhan menyatakan bahwa Abraham sungguh-sungguh takut akan Tuhan dan rela menyerahkan sesuatu yang berharga untuk melakukan perintahNya.
Dan Tuhan-pun menyediakan seekor domba bagi Abraham untuk dipersembahkan sebagai korban.
“Dan Abraham menamai tempat itu: ‘TUHAN menyediakan’; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: ‘Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.’ ” Kejadian 22:14
Apa yang menjadi perintah Tuhan dalam hidup kita? Mari kita belajar untuk taat kepadaNya, sekalipun kita harus mengorbankan sesuatu yang berharga dalam hidup kita.
Dengan memilih untuk taat kepada Tuhan, maka kita akan melihat pintu-pintu berkat yang akan Tuhan bukakan bagi kehidupan kita.
“Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri–demikianlah firman TUHAN–:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku,
maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.” Kejadian 22:16-17
.
Setiap hari kita pasti dihadapkan kepada pilihan-pilihan yang harus kita lakukan. Kita dapat belajar dari tiga kisah hidup Abraham di atas, untuk dapat menentukan pilihan apa yang harus kita ambil.
Jangan berdalih bahwa kita tidak punya pilihan lain selain mengikuti atau menjalani hal-hal yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Selalu ada pilihan bagi kita! Pilihlah jalan terang yang telah Tuhan sediakan bagi kita. Pilihlah jalan kehidupan yang akan memberikan rasa damai sejahtera bagi hidup kita.
Jangan takut dikucilkan oleh dunia ini jika ingin menerapkan pilihan-pilihan tersebut. Jangan takut pada resiko yang akan terjadi jika kita menjalani pilihan yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan akan membela setiap keputusan yang kita ambil, jika kita benar-benar mengandalkan kekuatan Tuhan dan berjalan dalam kebenaran FirmanNya.
Dan Tuhan jugalah yang akan memberikan sukacita dan kemenangan dalam setiap keputusan yang kita jalani. Damai sejahtera Allah akan menyertai setiap langkah hidup kita. Haleluya!
“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;
apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.
Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti;
tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat.
Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, maka engkau akan tetap tinggal untuk selama-lamanya;
sebab TUHAN mencintai hukum, dan Ia tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya. Sampai selama-lamanya mereka akan terpelihara, tetapi anak cucu orang-orang fasik akan dilenyapkan.” Mazmur 37:23-28


Riva Sinjal Riva Sinjal adalah penulis & pemilik Pelita Hidup. Beliau sudah aktif menulis renungan sejak tahun 1998.

Senin, 15 Juli 2013

Sikap Pantang Menyerah: Menarik Perhatian Yesus

Bartimeus adalah seorang yang buta, yang duduk di pinggir jalan. Ia belum pernah melihat bukti yang nyata bahwa Yesus mampu melakukan mujizat. Meskipun  dia tidak dapat melihat dengan mata jasmaninya, tetapi  ia memiliki mata hati yang terbuka,  mampu melihat kuasa Yesus, dan percaya akan apa yang ia telah dengar tentang  Yesus. Bartimeus percaya  pada kemampuan Yesus  yang  sanggup untuk menciptakan bola mata yang baru baginya. Bartimeus ini adalah orang yang beriman, karena mata hatinya terbuka, ia percaya pada hal yang belum dilihatnya secara jasmani.

Ketika ia mendengar bahwa Yesus sedang  berjalan di dekatnya, maka iapun segera berseru memanggil nama Yesus. Berada dekat dengan  kerumunan orang banyak yang berbondong-bondong itu, tentunya suasananya sedang ramai, banyak suara orang yang sedang berbincang-bincang, mereka mungkin sedang membicarakan mengenai mujizat-mujizat yang telah dilakukan oleh Yesus.  Dalam suasana seperti  itu, Bartimeus menggunakan kesempatan supaya dapat  memperoleh mujizat dari Yesus. Yang dilakukan oleh Bartimeus ialah  berseru untuk memanggil namaNya. Sekalipun banyak orang menyuruhnya agar dia diam, tetapi ia tetap teguh pada pendiriannya sebab ia memiliki sebuah tekad  yaitu agar suaranya yang sedang memanggil-manggil  nama Yesus itu, dapat didengar langsung  oleh Yesus sendiri. Usahanya itu tidak sia-sia, akhirnya iapun memperoleh apa yang diharapkannya.

Kisah yang menarik mengenai Bartimeus ini, mari kita bandingkan  sejenak dengan kisah Yosua yang memerlukan mujizat dari Allah pada waktu ia berperang melawan musuh-musuhnya, dalam Yosua 10:12-14 , “Lalu Yosua berbicara kepada Tuhan pada hari Tuhan menyerahkan orang Amori itu kepada Israel; ia berkata dihadapan orang Israel:”Matahari berhentilah di atas Gibeon dan engkau bulan, di atas lembah Ayalon!”. Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak , sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur?  Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh”.  Yosua meminta sebuah mujizat dari Allah, pada saat mereka  berperang melawan musuh-musuhnya. Permohonan Yosua itu dikabulkan oleh Allah, untuk menolong mereka memperoleh kemenangan. Iman Yosua sanggup menghentikan matahari, sedangkan jeritan iman dari Bartimeus sanggup menarik perhatian Yesus, dan  menghentikan langkah Yesus.

Hidup dalam dunia ini  setiap orang selalu diperhadapkan dengan berbagai  macam tantangan dan kesulitan. Menghadapi  berbagai  macam persoalan yang begitu kompleks, kadang-kadang membuat kita bingung, sepertinya jalan yang kita temui buntu, tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukan,  sehingga kitapun membutuhkan pertolongan yang datangnya dari Tuhan, yaitu mujizat.
Suatu hal yang sungguh menarik untuk diperhatikan dari Bartimeus ialah sikapnya yang pantang menyerah itu, dapat menghentikan langkah Yesus, ia  dapat menarik perhatian Yesus. Bagaimanakah sikap pantang menyerah  Bartimeus ini sehingga menarik perhatian  Yesus kepadanya?

Ada empat hal, dalam sikap pantang menyerah yang dimiliki oleh Bartimeus untuk menarik perhatian Yesus, yaitu: 

 

1. Tidak mau diam

 

Bartimeus buta, tidak dapat melihat, ia tidak mengetahui dimana tepatnya posisi Yesus sedang  berada. Bartimeus  juga tidak bisa berjalan  mendekat  untuk  menghampiri Yesus, sebab tidak ada yang menuntun dia datang kehadapan Yesus, namun ia tidak  diam saja dengan keadaannya itu. Ia tidak mau menunggu, Bartimeus tidak mau tinggal diam, ia melakukan sesuatu tindakan iman, yang dapat dilakukannya yaitu, dengan   berteriak  berseru memanggil  nama Yesus. Dorongan yang membuat dia berseru ialah mata rohaninya yang percaya pada Yesus. Imannya timbul, melalui apa yang telah ia dengar tentang Yesus.  Ia telah mendengar berita tentang Yesus yang sanggup mengadakan tanda-tanda mujizat. Imannya adalah sangat percaya kepada kuasa Yesus yang sanggup memberikan apa yang ia butuhkan, yaitu supaya ia dapat melihat, karena itu iapun berseru sekeras-kerasnya memanggil nama Yesus, supaya  terdengar oleh Yesus di tengah kerumunan orang banyak itu.  Pada Ayat 47, ketika ia mendengar bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru :”Yesus Anak Daud, kasihanilah aku!”

Dalam menghadapi berbagai-bagai persoalan dalam kehidupan ini, apakah kita mengandalkan iman kita hanya pada penglihatan saja? Atau telah mampukah  kita  memiliki iman, sekalipun belum melihat, karena telah mendengar akan Firman Allah, dan percaya. Sebab Kitab Roma mencatat bahwa iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus.   “ sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat”, 2 Korintus 5:7. Mampukah kita terus berjalan dengan iman, dan bukan berjalan dengan penglihatan. Milikilah iman.

Bartimeus beriman, setelah mendengar Firman  Allah, walaupun ia tidak melihat bukti-bukti nyata dari kuasa/mujizat yang telah dilakukan oleh Yesus. Bartimeus hanya mendengar, mungkin dari cerita orang lain, atau ia mendengarkan dengan seksama tatkala beberapa orang sedang membicarakan  kuasa  yang dimiliki Yesus itu. Bartimeus sungguh percaya pada apa yang telah didengarnya itu, sebab itu ia tidak mau tinggal diam saja,  ia berseru dengan iman pada Yesus dan memanggil nama Yesus. Ia percaya akan dapat  menerima kesembuhan juga dari  Yesus.

Tatkala menghadapi persoalan, janganlah kita diam saja, dan janganlah kita menunggu. Kita harus bertindak, datanglah  pada Yesus, dengan berseru dengan iman  melalui  doa.   Allah Maha Tahu, Yesus  tahu kalau dalam perjalanannnya itu ada orang buta bernama Bartimeus yang duduk di pinggir jalan itu. Yesus tertarik dengan seruan Bartimeus. Respon  dari  Bartimeus itu , yang berseru memanggil  namaNya, adalah sangat menarik perhatian Yesus.  Allah mau kita bertindak. Melalui perbuatan atau sikap yang kita nyatakan,  Allah akan melihat apakah ada iman pada kita.  Allah mengetahui segala hal tentang kehidupan kita, baik kesulitan, penderitaan, dan kebutuhan kita. Allah tidak tertarik dengan masalah kita, tetapi Allah sangat tertarik pada iman kita. Tindakan iman kita, dapat menarik perhatian Allah kepada kita.  “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak diserti perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati”, Yakobus 2:17.

2.Tidak terpengaruh oleh keadaan

 

Meskipun saat  itu orang banyak menyuruhnya supaya diam, mungkin ada yang  menghardiknya, memarahinya, yang berusaha untuk membungkam dia, namun Bartimeus tidak mau dipengaruhi, ia tidak peduli dengan omongan orang lain, ia tetap fokus pada Yesus saja.  Pada ayat 48, banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin  keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanlah aku!” Bartimeus tidak mau terpengaruh oleh keadaan, yaitu sikap mereka  yang mau menahan  Bartimeus supaya diam. Semakin dilarang, bahkan ia semakin keras  berseru  untuk  memanggil Yesus. Ia tetap mengarahkan hatinya dan fokusnya pada Yesus.  Bisa kita bayangkan, keadaan itu sedang ramai, ada banyak suara, dan  Bartimeus  ingin sekali teriakannya  itu sampai  terdengar oleh Yesus.  Bartimeuspun  berusaha  agar seruannya itu mampu melebihi  suara mereka, supaya Yesus dapat mendengarnya.

Banyak kali kita terhenti, terdiam, bingung bahkan sampai putus asa bila kita hanya fokus pada persoalan atau keadaan yang sedang kita hadapi. Ketika kita hanya memikirkan pada  besarnya dan  beratnya persoalan hidup ini, maka sepertinya tiada jalan keluar lagi yang dapat kita temui. Keadaan itu dapat mempengaruhi membuat kita menjadi  lemah tak berdaya, lelah, capek, marah, patah semangat dan kecewa. Hal-hal ini akan menghalangi kita untuk memfokuskan diri pada pertolongan dari Allah.  Seberat apapun persoalan yang  sedang kita hadapi janganlah terpengaruh oleh keadaan, sekalipun itu buruk keadaannya, tetapi pandanglah kepada Yesus diatas segala persoalan. Ingatlah kepada Yesus, bersama Yesus pasti ada jawaban.

Daud katakan, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku”. Doa mampu menutup mata jasmani kita sehingga kita tak mudah terpengaruh oleh keadaan dan kenyataan pahit yang sedang terjadi dalam hidup kita.  “Tetaplah berdoa”, 1 Tesalonika 5:17. “Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan”, Mazmur 145:18. Berdoalah dengan tidak jemu-jemu.

3. Tidak malu

 

Karena iman yang dimiliki oleh Bartimeus, maka ia tidak malu atau gengsi di antara orang banyak yang berbondong-bondong itu, walaupun ia hanya seorang buta, yang cuma mampu duduk di pinggir jalan. Ia percaya bahwa Yesus mengasihi semua orang.  Justru karena iman yang ia miliki itu, ia tidak malu dengan keadaannya, bahkan  ia memiliki kekuatan untuk terus berusaha mencari perhatian dari Yesus.  Semua orang yang menantikan Tuhan tidak akan mendapat malu, dan siapa yang percaya kepadaNya tidak akan dipermalukan.  “ kepadaMu mereka percaya, dan mereka tidak mendapat malu”, Mazmur 22: 6b. Seruan Bartimeus itu, sangat berharap pada belas kasihan Yesus, dan ia mampu membuat Yesus memperhatikannya, dan menerima kesembuhan.

Janganlah malu dengan keberadaan, dan status kita.  Yesus tidak pernah pilih kasih untuk menyatakan kuasaNya. Yesus mengasihi semua orang, bahkan ia selalu mencari  orang-orang  yang miskin,  yang menderita, orang sakit,  dan orang berdosa, untuk memulihkan hidup mereka. Setiap orang berharga di mata Tuhan dan dikasihiNya. Tidak  ada yang  tersembunyi  bagi  Tuhan, setiap hati yang  mau terbuka  kepada  Yesus, pasti  dipulihkanNya.  Jangan terintimidasi oleh keadaan atau keberadaan kita, yang melemahkan  iman.  Rendahkan saja diri dihadapan Yesus, akui saja semua keberadaan kita pada Yesus, terbukalah dan percayalah  bahwa Yesus tidak pernah mempermalukan.  Mata Tuhan tertuju  kepada  setiap orang yang berharap akan kasih setiaNya.

“Tuhan itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang  yang sombong dari  jauh”, Mazmur 138:6. “Rendahkanlah dirimu dihadapan Tuhan, dan  Ia akan meninggikan kamu”, Yakobus 4:10. Kalau  orang banyak itu tidak menghargai Bartimeus, malah disuruh supaya ia diam, artinya orang banyak itu merasa Bartimeus tidak layak menerima mujizat dari  Yesus. Namun, Yesus  malah memberikan perhatianNya kepada  Bartimeus, sampai  Yesus menghentikan langlahNya, dan memanggilnya.

4. Tidak menyerah

 

Bartimeus pantang menyerah, ia tidak mau menyerah, karena iman, ia tidak mau berhenti  untuk terus berseru  memohon sampai  Yesus menjawab dia.  Seruannya itu mampu menghentikan langkah Yesus.  Sikap pantang menyerah Bartimeus itupun membuat Yesus berhenti.  Pada  ayat 49, Lalu Yesus berhenti  dan memanggilnya, supaya ia datang dihadapanNya. Akhirnya  kesempatan yang ditunggu oleh Bartimeus itu datang. Ia menanggalkan jubahnya, artinya ia segera  mengambil  kesempatan itu, langsung mengampiri Yesus. Bartimeus  mau memiliki hidup yang baru.

“Tanya Yesus kepadanya: “Apa yang  kau kehendaki  supaya  Aku perbuat bagimu?”, Markus 10:51.  Luar biasa, adalah hal yang sangat luar biasa, bila Yesus mengatakan itu juga bagi saudara saat ini, apakah yang saudara akan  katakan kepadaNya ?  Haleluya!  Bila saudara  merasakan, Tuhan sedang mengatakan ini kepadamu “Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Katakanlah , katakan  saja, apa yang saudara kehendaki dari Tuhan, ucapkanlah padaNya, bila saudara dapat merasakan kehadiranNya saat  ini dalam hidupmu. Haleluya!

Dihadapan Yesus, dan kepada Yesus, Bartimeus meminta supaya ia dapat melihat. Yesus telah melihat perbuatan iman Bartimeus yang pantang menyerah, karena itu Yesus mengatakan kepadanya “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan Engkau!”. Pada saat itu juga melihatlah ia. Bartimeus memperoleh apa yang dibutuhkannya dari Yesus.

Iman, membuat  kita  pantang menyerah, iman memampukan kita  berseru tiada henti dalam doa kepada Tuhan. Orang  yang pantang menyerah tetap kuat pada pendiriannya, dan  tidak putus-putusnya,  akan terus  menerus berseru  untuk mengetuk pintu hati Tuhan. Orang  yang pantang menyerah, tidak  kenal  putus  asa, sekalipun  harus mengetuk  pintu Surga selama bertahun-tahun.

Sikap yang pantang menyerah merupakan sebuah kendaraan yang akan membawa kita kepada perbuatan iman untuk menerima pertolongan dari Tuhan. Jangan menyerah, sebab  orang  yang pantang menyerah dapat menarik perhatian Allah.  Apapun yang  sedang saudara alami saat ini, jangan menyerah,  tetap berharap pada  pertolongan Tuhan, Tuhan  tidak akan meninggalkan orang  yang mencariNYa.  “Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan, dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak”, Mazmur 37:5.

Yesus adalah orang yang pantang menyerah, Dialah teladan kita. Pandanglah pada salib Yesus, Dia tetap memikul salib itu sampai mati di kayu salib untuk menggantikan kita yang  berdosa ini. Yesus tidak menyerah, sekalipun ia  harus menderita, disiksa,  ditikam sampai mati disalibkan, Yesus tidak menjadi lemah dan putus asa.  Yesus tetap memuliakan Allah dan  tidak goyah dalam penderitaanNya, Yesus tetap mengampuni dan  tidak  malu diolok-olok, dituduh sebagai orang.  Yesus melakukannya bukan saja untuk menarik perhatian Allah, karena  melaksanakan  Firman Allah. yaitu Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan (Matius 26:2), tetapi untuk menarik perhatian dunia ini  pada kasihNya  yang  begitu besar. Rela berkorban untuk menebus dosa dan menyelamatkan manusia. Penyaliban telah berubah menjadi kebangkitan.

Kiranya Paskah yang kita rayakan,  membawa semangat kepada kita ” pantang menyerah”, jangan menyerah sampai Tuhan memberi pertolonganNya.  “Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diriNya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa”, Ibrani 12:3.

“Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang  menuruti apa yang ada tertulis didalamnya, sebab waktunya sudah dekat”. Wahyu 1:3.

Perlombaan Iman

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” Filipi 3:10-14
Ayat diatas ditulis oleh Rasul Paulus dimana dia sudah mencapai usia yang sudah cukup tua. Tetapi kerinduannya tetap ingin mengenal Kristus lebih dalam lagi, supaya dia bisa memperoleh hadiah yang telah Tuhan sediakan baginya. Dia tidak hanya “berjalan” saja kepada tujuan, tetapi berlari-lari untuk memperoleh hadiah.
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” 2Tim 4:7.
“Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi” 1Tim 6:12.
Paulus mengajarkan hal pertandingan kepada Timotius, yang merupakan teman/rekan sepelayanannya. Hidup ini adalah pertandingan. Hidup ini adalah perlombaan. Demikianlah ditulis dalam Ibrani 12:1, “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.“
Bagaimana menjalani perlombaan/pertandingan ini ?
Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. 1Kor 9:24-27
1. Larilah begitu rupa, karena hanya ada satu hadiah utama dalam suatu perlombaan 
 (1 Kor 9:24). 
Walaupun Tuhan menyediakan banyak tempat bagi umatNya. Tetapi Rasul Paulus ingin menyampaikan kepada kita untuk dapat meraih tujuan yang telah Tuhan tetapkan bagi umatNya dengan sedemikian rupa. Biarlah kita melakukannya dengan mata tertuju pada Yesus (Ibr 12:2). Fokuslah terhadap apa yang Tuhan sedang kerjakan melalui hidup kita. Jangan melihat ke kiri atau ke kanan, jangan menyimpang dari jalan Tuhan, atau bahkan berbalik seperti yang dilakukan istri Lot, sehingga ia menjadi tiang garam. Keterikatan dengan hal-hal duniawi (kompromi dengan dosa, masih melakukan adat-istiadat nenek moyang, penyembahan berhala, dll) akan mengakibatkan kematian secara rohani.
Carilah kesukaan Allah (Gal 1:10). Biarlah Tuhan yang menjadi bagian kita (Maz 73). Renungkan firman Tuhan siang dan malam.
2. Kuasai diri dalam segala hal (1 Kor 9:25). 
Seorang olahragawan akan melatih fisiknya dengan berbagai macam latihan, seperti latihan fisik, latihan dasar, latihan teknik, angkat beban, lari, dll. Begitu banyak aspek yang harus dikembangkan jika sang olahragawan ingin memenangkan pertandingan.
Banyak aspek juga dalam kehidupan rohani kita, tidak hanya berdoa dan baca firman saja. Pujian penyembahan, cara-cara berdoa secara strategis, pelayanan terhadap orang yang membutuhkan bantuan, kunjungan, mendoakan orang sakit, bermain musik, memimpin pujian, membawakan firman Tuhan; tidak terlepas juga pekerjaan dan lingkungan, dimana kita harus menjadi saksi dan memberitakan firman, sharing/menguatkan teman, dan lain-lain.
Kehidupan rohani kita tidak akan berkembang hanya lewat doa dan membaca firmanNya saja. Iman tanpa perbuatan adalah mati.
Dalam kitab Roma 12:6-8 tertulis karunia-karunia melayani. Temukan karunia yang telah Tuhan berikan bagi kita masing-masing.
Jangan tanya apa yang bisa gereja berikan bagi kita, tetapi tanyalah apa yang bisa kita berikan.
3. Berlari dengan tujuan dan strategi 
 (1 Kor 9:26). Ada strategi dalam setiap perlombaan, bahkan juga dalam latihan bagi sang olahragawan. Untuk mencapai peak-performance / kemampuan-puncak, diterapkan pola latihan khusus (seperti Training Centre) selama beberapa bulan atau bahkan tahunan. Mendekati lomba kuantitas latihan dikurangi, tetapi kualitas ditambah. Mental stress dipantau. Detak jantung diukur. Pola istirahat juga diperhatikan. Gizi juga harus seimbang. Pola ini diterapkan untuk mencapai satu tujuan: PEAK PERFORMANCE.
Segala sesuatu yang kita lakukan tentunya harus dengan tujuan yang jelas, dan strategi yang tepat. Segala sesuatu yang berlebih menjadi hal yang kurang bagus. Semuanya harus seimbang/ balance. Semua ada standard/ukurannya. Rasul Paulus mengatakan bahwa dia bukanlah “petinju yang sembarangan memukul”. Apakah yang telah tujuan Tuhan bagi hidup kita? Jalankanlah dengan meminta hikmat dariNya, agar apa yang kita lakukan tidak menjadi sia-sia.
4. Melatih tubuh dan menguasai seluruhnya, supaya jangan ditolak (1 Kor 9:27).
“Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1Tim 4:8).
“Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus” (1Kor 11:1). Rasul Paulus berani untuk berkata supaya orang-orang dapat mengikuti teladannya, karena dia telah melatih tubuhnya. Dia telah mendisiplinkan hidupnya di dalam Tuhan. Sehingga apa yang dia lakukan, setiap langkah hidupnya, merupakan cerminan kehendak Tuhan.
Biarlah hidup kita memancarkan terang Kristus, sehingga dapat menjadi kesaksian bagi semua orang.
Marilah kita bersama-sama ikut dalam pertandingan iman yang telah Tuhan tetapkan dengan mata yang selalu tertuju kepadaNya, menguasai segala aspek kehidupan, tetap kepada tujuan dan menjalankannya dengan strategi yang tepat dan senantiasa memancarkan terang Kristus dalam tiap langkah hidup kita.

Pertandingan Iman: Memenangkan Mahkota

pertandingan-iman-memenangkan-mahkota“Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.” 1 Korintus 9:25
Dalam setiap pertandingan olahraga, selalu ada hadiah yang disediakan bagi pemenang. Dan setiap peserta pertandingan/perlombaan akan berusaha dengan maksimal agar mereka dapat memperoleh apa yang mereka kejar.
Merupakan suatu kebanggaan yang tak ternilai ketika kemenangan itu dapat diraih. Bahkan kita dapat melihat satu kota atau satu negara yang merayakan kemenangannya jika tim yang mewakili mereka dapat meraih juara. Tim tersebut akan dielu-elukan dan diarak ke seluruh kota.
Tentunya mereka meraih posisi juara bukan tanpa perjuangan. Berbagai latihan keras mereka jalani agar mendapatkan performa yang maksimal. Kedisiplinan dalam berlatih harus terus dipertahankan agar mereka dapat menjadi juara. Berbagai teknik dan strategi diterapkan agar mereka dapat bersaing dengan lawannya dan memenangkan pertandingan.
Dan bagi mereka yang benar-benar mempersiapkan latihannya dengan sangat baik akan memperoleh juara dan menerima piala/medali atas kemenangannya.
Dalam hal kerohanian, ternyata kita juga harus menjalankan/mengikuti pertandingan/perlombaan iman. Kita tidak hanya menerima keselamatan dari Kristus saja, tetapi kita diwajibkan untuk mengikuti perlombaan iman.
“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” Ibrani 12:1
Tentu saja kita tidak sekedar mengikuti perlombaan itu tanpa memperoleh hasil. Sama dengan perlombaan/pertandingan olahraga, mahkota juara juga disediakan Tuhan bagi setiap kita yang dapat menyelesaikan perlombaan dengan baik. Dan mahkota yang disediakan bukan sekedar mahkota yang fana dan dapat pudar seperti piala/medali yang diperoleh olahragawan, tetapi merupakan mahkota yang kekal dan abadi, yang jauh lebih mulia dan berharga dibanding mahkota di dunia ini (1 Kor 9:25).
.
Bagaimana kita dapat mengikuti pertandingan/perlombaan yang diwajibkan ini dan bahkan meraih mahkota yang Tuhan sediakan?

1. Menanggalkan semua beban dan dosa

“Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita.” Ibrani 12:1
Jika seorang olahragawan mengikuti pertandingan dengan membawa sebuah tas yang tidak diperlukan dalam pertandingan tersebut, maka tas tersebut justru akan menjadi beban bagi dia dalam bertanding. Beban itu akan menganggu performanya sehingga akan mempersulit dia untuk meraih posisi juara.
Sama juga dengan beban hidup kita dan juga dosa yang masih kita perbuat, akan menganggu kerohanian kita. Beban hidup bisa berupa amarah, kekecewaan, sakit hati, iri hati, kesombongan, keputusasaan, keras hati dan lain sebagainya.
Jika kita masih membawa beban-beban tersebut dan melakukan dosa dalam kehidupan kita, maka kita akan kesulitan untuk dapat bertanding secara iman. Kita akan sulit berdoa, sulit membaca Firman Tuhan, sulit mengasihi sesama, sulit mengampuni dan masih banyak hal lagi yang akan menjadi sulit untuk dilakukan ketika masih ada beban dan dosa dalam hidup kita.
Bagaimana mungkin kita dapat mengikuti pertandingan iman bahkan meraih mahkota jika kita masih membawa beban hidup dan melakukan dosa?
Mari tanggalkan segala beban dan dosa yang dapat menghalangi kita untuk menjalani pertandingan iman.
.

2. Melatih diri

“Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.” 1 Korintus 9:26
Pertandingan bagi seorang olahragawan tidak hanya berpusat kejuaraannya saja, tetapi merupakan proses. Proses dimulai dari latihan fisik, latihan beban, latihan teknik, latihan strategi, kerjasama tim, pola makan yang baik, pola hidup yang baik, pola tidur yang baik dan lainnya. Semua aspek dijalani dengan baik dan terencana agar dapat memperoleh performa yang maksimal ketika bertanding.
Demikian juga dalam pertandingan iman, kita harus menjalani kehidupan rohani kita dengan seksama. Kita harus melatih hidup kita agar kita menjadi kuat dalam iman. Iman yang kuat dan bertumbuh tidak diperoleh dalam sekejap saja, tetapi merupakan iman yang dibina hari lepas hari dengan tuntunan Firman Tuhan.
“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Ibrani 10:25
Melalui ibadah, doa, pembacaan Firman Tuhan, mengasihi sesama, mengampuni orang yang menyakiti kita, membantu sesama, menghormati orang tua, menjalankan pekerjaan dan bisnis secara jujur, tidak kompromi dengan dosa, menjaga kekudusan pernikahan, tidak mengikuti pergaulan yang buruk dan masih banyak lagi yang dapat kita lakukan untuk melatih hidup kita agar dapat menjalani pertandingan iman dengan baik.
“Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” 1 Timotius 4:7b-8
.

3. Berlomba dengan tekun

“…. dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” Ibrani 12:1
Kesuksesan dalam pertandingan tidak diraih dalam waktu singkat. Banyak olahragawan yang memulai pelatihannya sejak usia dini dan mereka juga banyak menemui kekalahan dalam pertandingan-pertandingan yang dijalaninya. Tetapi kekalahan yang mereka alami tidak membuat mereka putus asa dan mundur. Jika mereka mengalami kekalahan, mereka akan kembali berlatih dan lebih giat lagi berlatih agar mereka dapat meraih kemenangan pada pertandingan berikutnya.
Ketekunan yang mereka jalani pasti akan membuahkan hasil yang manis pada waktunya. Olahragawan-olahragawan sukses yang berada di sekitar kita merupakan sosok-sosok yang bertekun dalam berlatih, bangkit dari kekalahan dan terus berlatih hingga meraih kemenangan.
Kegagalan dalam kehidupan kita merupakan hal yang biasa terjadi. Tidak ada kesuksesan yang tanpa diawali dengan kegagalan. Bahkan Thomas Alfa Edison mengalami kegagalan sebanyak 9.998 kali sebelum dia sukses menemukan lampu pijar. Dan setelah itu dia menemukan banyak alat dan telah dipatenkan semuanya dengan jumlah 1.093 penemuan. Dia mengatakan bahwa:
“Saya sukses, karena saya telah kehabisan apa yang disebut dengan kegagalan”
“Jenius adalah 1 persen ide cemerlang dan 99 persen kerja keras”
Ketekunan dalam menjalani pertandingan iman yang diwajibkan bagi kita merupakan hal yang penting. Jangan menyerah ketika kita menemui berbagai masalah yang berat, jangan menyerah ketika kita disakiti oleh orang terdekat kita, jangan kecewa ketika keadaan tidak seperti yang diharapkan, jangan putus asa ketika tidak ada jalan keluar. Tuhan pasti akan memberikan kita kekuatan untuk menanggung semua yang kita alami.
Tetap setia mengiring Yesus, tetap tekun berdoa dan beribadah, tetap mengasihi sesama kita, tetap mengampuni orang yang menyakiti hati kita, tetap melayani walaupun banyak yang mengecewakan.
Ketekunan kita pasti akan membuahkan hasil. Tuhan akan memberikan upah bagi setiap orang yang setia. Iman kita akan bertumbuh menjadi kuat. Dan setiap kegagalan yang kita alami justru akan mempersiapkan kita untuk sesuatu yang lebih besar, untuk meraih kemenangan dan sekaligus mahkota yang abadi.
.
Mari jalani pertandingan iman yang diwajibkan bagi kita, persiapkan diri kita untuk dapat menjalani pertandingan dengan baik dan jalani pertandingan dengan tekun, maka kita akan melihat karya Tuhan yang luar biasa terjadi dalam kehidupan kita. Haleluya!
“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.
Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.” Ibrani 12:2-3